Oleh: Syarif Nurul Hidayatullah, Ketua Serikat Media Siber (SMSI) Melawi
Pagi ini, Selasa, 6 Oktober 2026, saya keluar dari pondok tempat tinggal saya lebih awal dari biasanya. Jarum jam menunjukkan pukul 06.10 WIB ketika saya turun dan mulai menjalankan aktivitas seperti biasa.
Ada alasan khusus mengapa pagi ini saya berangkat lebih awal. Saya harus mengantar seorang teman pergi bekerja karena sepeda motornya sedang mengalami kerusakan dan masuk bengkel.
Namun, baru beberapa langkah meninggalkan pondok, pemandangan yang saya lihat langsung membuat saya terdiam sejenak.
Kabut asap kembali menyelimuti lingkungan.
Udara pagi yang seharusnya terasa segar justru dipenuhi asap. Jarak pandang pun terbatas. Saya tidak bisa berbuat banyak untuk melindungi diri selain mengenakan masker dan berharap asap segera berlalu.
Manusia memang kadang lucu. Ketika udara sudah tidak sehat, yang bisa dilakukan sering kali hanya menutup hidung, memakai masker, lalu tetap menjalankan aktivitas karena hidup tidak punya tombol pause.
Perjalanan saya kemudian berlanjut. Sepeda motor membutuhkan BBM, sehingga saya mampir ke salah satu penjual BBM eceran.
“Pertalite satu liter, Bu.”
Setelah BBM dituangkan ke tangki, saya menyerahkan uang Rp20 ribu.
Ibu penjual itu menjawab singkat.
“Pas.”
Saya tidak lagi kaget.
Harga Rp20 ribu untuk satu liter BBM eceran sudah menjadi sesuatu yang biasa bagi kami yang tinggal di Nanga Pinoh, Melawi. Mau tidak mau, kebutuhan untuk bergerak tetap harus dipenuhi.
Saya kembali menghidupkan motor dan melanjutkan perjalanan mengantar teman bekerja.
Tetapi pagi itu ada sesuatu yang membuat perjalanan terasa berbeda.
Kabut asap begitu tebal.
Jarak pandang hanya beberapa meter. Saya pun menyalakan lampu motor. Bukan untuk gaya-gayaan, tetapi demi keselamatan. Di tengah jarak pandang yang terbatas, pengendara harus lebih berhati-hati karena kendaraan lain bisa muncul tiba-tiba dari balik kepulan asap.
Di sepanjang perjalanan itulah mata saya menangkap pemandangan yang membuat hati sedikit tersentuh.
Anak-anak sekolah mulai memenuhi jalan.
Mereka mengenakan seragam putih dan celana merah. Anak-anak sekolah dasar.
Mereka tetap berjalan menuju sekolah.
Di tengah udara yang diselimuti asap, langkah kecil mereka terus bergerak.
Saya tidak tahu apa yang ada dalam pikiran mereka pagi itu.
Mungkin mereka hanya menjalankan rutinitas seperti biasa. Mungkin ada yang ingin bertemu teman. Mungkin ada yang takut terlambat masuk kelas. Atau mungkin mereka belum sepenuhnya memahami betapa buruknya kondisi udara yang sedang mereka hadapi.
Tetapi bagi saya, pemandangan itu mempunyai arti lain.
Mereka sedang berjuang menuntut ilmu.
Mereka tetap pergi ke sekolah demi masa depan yang bahkan mungkin belum mereka bayangkan secara utuh.
Di tengah kabut asap, mereka membawa tas di punggung dan cita-cita di dalam kepala.
Saya pun teringat informasi yang disampaikan Dinas Kesehatan Melawi sehari sebelumnya mengenai kondisi udara yang masuk dalam zona hitam, yang berarti berada pada kondisi berbahaya.
Mendengar informasi tersebut tentu membuat saya bertanya-tanya.
Bagaimana dengan anak-anak sekolah?
Bagaimana dengan para guru?
Bagaimana dengan masyarakat yang setiap hari harus keluar rumah untuk bekerja, berdagang, mengantar anak sekolah dan memenuhi kebutuhan keluarga?
Kabut asap bukan hanya persoalan pemandangan yang menjadi kelabu.
Ada kesehatan manusia di dalamnya.
Ada aktivitas masyarakat yang terganggu.
Ada anak-anak yang harus tetap belajar.
Ada orang tua yang mungkin setiap pagi melepas anaknya pergi sekolah dengan rasa khawatir.
Dan ada para pekerja yang tetap harus keluar rumah karena kebutuhan hidup tidak bisa menunggu sampai udara kembali bersih.
Saya sendiri hanya bisa menggunakan masker dan berhati-hati ketika berkendara.
Selebihnya, saya hanya bisa berharap.
Semoga kondisi ini segera berakhir.
Semoga hujan turun membasahi bumi Melawi.
Semoga udara kembali bersih dan anak-anak bisa belajar tanpa harus menghirup udara yang penuh asap.
Saya percaya pemerintah daerah tentu sudah memiliki langkah dan cara untuk mengatasi persoalan kabut asap ini. Harapannya, langkah tersebut dapat segera dirasakan masyarakat.
Karena persoalan asap bukan hanya tentang hari ini.
Ini tentang kesehatan.
Ini tentang keselamatan.
Dan yang paling penting, ini tentang anak-anak yang pagi tadi tetap melangkahkan kaki menuju sekolah.
Langit boleh kelabu. Jalan boleh diselimuti asap. Tetapi semangat mereka untuk menuntut ilmu jangan sampai ikut padam.
Pagi itu saya melanjutkan perjalanan.
Motor terus berjalan menembus asap.
Dan dari balik masker, saya kembali melihat anak-anak berseragam putih merah berjalan menuju sekolah.
Saya tidak tahu siapa mereka.
Saya tidak tahu cita-cita mereka.
Tetapi saya tahu satu hal:
Mereka sedang memperjuangkan masa depan mereka, bahkan ketika udara di sekitar mereka sedang tidak bersahabat.

Kolom Komentar Pembaca