Senin, 21 September 2026 • WIB (Waktu Indonesia Barat) Info Cuaca Kalbar 🌤️ Pontianak 31°C
Hotline Redaksi: +62812-5466-1818
BERITA TERKINI
TERKINI Memuat Indeks Berita Terhangat KATALISTIWA ONLINE... • INFO Selamat Datang di Portal Berita Resmi KATALISTIWA ONLINE - Aktual, Lugas, dan Terpercaya.

Jiwa Korsa Petani Melawi: Lahannya Habis Terbakar, Tetap Berjuang Selamatkan Lahan Orang Lain

3 menit baca 3.420 tayang
Foto Liputan
Jiwa Korsa Petani Melawi: Lahannya Habis Terbakar, Tetap Berjuang Selamatkan Lahan Orang Lain (Foto: Dok. Redaksi Katalistiwa)



Penulis : Syarif Nurul Hidayatullah, Petani Melawi


Kamis, 10 September 2026 sekitar pukul 17.00 WIB. Handphone saya berbunyi. Hanya sekali.

Ketika saya angkat, sambungan telepon sudah terputus.

Saya kemudian membuka pesan WhatsApp. Ada satu pesan dari Su Bujang Sasmi.

“Minta bantuan pemadam, ref api dah basar tok. Dakat kabon Pak Usu.”

Pesan singkat itu langsung membuat saya bergerak.

Saya mencoba menelepon kembali. Namun, nomor tersebut sudah tidak aktif.

Saya pun langsung menghubungi sejumlah tim penanganan Karhutla di Melawi, mulai dari BPBD, Tagana, TNI hingga Polri, untuk menyampaikan informasi mengenai kebakaran yang semakin membesar di sekitar perkebunan warga.

Setelah menyelesaikan pekerjaan, saya langsung menuju kebun Pak Usu Bujang Sasmi di Desa Kompas Raya, Kecamatan Pinoh Selatan, Kabupaten Melawi.

Ketika tiba di lokasi, warga sudah ramai.

Mereka tidak menunggu semuanya sempurna. Tidak menunggu bantuan datang. Tidak menunggu peralatan lengkap.

Mereka bergerak dengan apa yang mereka punya.

Di depan mata saya, api Karhutla membesar dan menjalar di antara lahan perkebunan warga. Kepulan asap bercampur panas membuat suasana semakin mencekam.

Dari kejauhan terdengar suara mobil sirene tim Karhutla.

Harapan warga seketika muncul.

Mereka berharap kendaraan pemadam bisa masuk dan membantu menjinakkan api yang semakin membesar.

Namun harapan itu terbentur kondisi lapangan.

Ketika sampai di depan gang menuju perkebunan warga, kendaraan tersebut tidak bisa masuk karena akses jalan tidak memungkinkan. Tim akhirnya bergerak menuju lokasi lain yang bisa dijangkau kendaraan, tepatnya di wilayah Desa Sungai Raya.

Warga yang berada di lokasi kebakaran pun kembali menghadapi kenyataan: mereka harus berjuang sendiri.

Tetapi semangat mereka tidak surut.

Justru di tengah keterbatasan itulah saya melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar upaya memadamkan api.

Jiwa korsa.

Dengan berbekal pengalaman dan pengetahuan berladang, warga berusaha menghentikan laju api tanpa menggunakan air.

Bukan karena mereka tidak membutuhkan air.

Air memang tidak tersedia.

Kemarau panjang membuat sumber air semakin sulit ditemukan. Sementara api terus bergerak mencari bahan bakar baru.

Parang menjadi salah satu senjata yang mereka andalkan.

Mereka membuat peladang atau pematas untuk memutus jalur rambatan api. Tanah dan tumbuhan dibersihkan agar api tidak dengan mudah berpindah ke lahan yang masih bisa diselamatkan.

Mereka bekerja bersama.

Satu orang membuka jalur.

Yang lain membersihkan semak.

Sebagian berjaga mengamati arah api.

Semua bergerak dengan tujuan yang sama: menyelamatkan lahan warga yang masih tersisa.

Namun ada satu momen yang sampai sekarang masih melekat dalam ingatan saya.

Saya melihat seorang warga yang tetap sibuk membantu memadamkan dan mengendalikan api.

Saya kemudian bertanya kepadanya.

“Lahan Bapak bagaimana?”

Ia terdiam.

Wajahnya terlihat sedih.

Kemudian ia menjawab pelan.

“Sudah habis, Dek. Ratusan batang karet saya sudah hangus.”

Saya terdiam.

Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih panas daripada api yang sedang membakar perkebunan.

Lahannya sendiri sudah habis.

Tanaman karet yang selama ini menjadi sumber penghidupan telah berubah menjadi batang-batang yang hangus.

Namun dia tidak pulang.

Dia tidak memilih berdiri melihat lahannya sendiri yang sudah menjadi korban.

Dia tetap membantu menyelamatkan lahan milik warga lain.

Di situlah saya melihat bahwa Karhutla bukan hanya tentang api yang membakar pohon, kebun dan tanaman.

Ada manusia yang kehilangan hasil jerih payahnya.

Ada keluarga yang kehilangan sumber penghasilan.

Ada petani yang harus menerima kenyataan bahwa tanaman yang dirawat bertahun-tahun bisa habis hanya dalam hitungan jam.

Tetapi di tengah semua kehilangan itu, masih ada sesuatu yang tidak ikut terbakar.

Solidaritas.

Petani yang kehilangan lahannya tetap membantu petani lain.

Warga yang kebunnya terancam tetap bergotong royong.

Mereka mungkin tidak memiliki mesin pemadam canggih.

Tidak memiliki persediaan air yang cukup.

Tidak memiliki peralatan lengkap.

Tetapi mereka memiliki keberanian, pengalaman, dan rasa bahwa mereka tidak boleh membiarkan tetangganya menghadapi api seorang diri.

Bagi saya, inilah wajah lain masyarakat Melawi ketika menghadapi Karhutla.

Mereka bukan sekadar korban.

Mereka juga menjadi penyelamat bagi sesamanya.

Dan kisah tentang petani yang lahannya habis terbakar tetapi masih membantu menyelamatkan lahan orang lain adalah pengingat bahwa dalam situasi paling sulit sekalipun, jiwa korsa masyarakat masih hidup.

Api mungkin mampu menghanguskan ratusan batang karet.

Api mungkin mampu mengubah kebun menjadi arang.

Tetapi malam itu saya melihat sesuatu yang tidak mampu dibakar oleh api:

semangat untuk saling menyelamatkan.

Itulah jiwa korsa petani Melawi.

Ketika miliknya sudah habis, ia masih memikirkan milik orang lain.

Dan mungkin, justru di situlah makna sesungguhnya dari gotong royong.

Bukan membantu ketika kita sedang berlebih.

Tetapi tetap membantu ketika kita sendiri sedang kehilangan.


Pedoman Pemberitaan Media Siber & Hak Jawab

Portal Berita Katalistiwa berkomitmen menyajikan informasi akurat, berimbang, dan terverifikasi. Apabila terdapat kekeliruan fakta atau sanggahan atas pemberitaan ini, silakan sampaikan melalui redaksi resmi kami untuk segera ditindaklanjuti sesuai UU Pers No. 40 Tahun 1999.

Liputan & Jurnalis: Redaksi Katalistiwa

Wartawan resmi KATALISTIWA ONLINE. Meliput dan menyajikan fakta langsung dari lapangan dengan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Kolom Komentar Pembaca