Penulis : Syarif Nurul Hidayatullah, Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Melawi.
Catatan Perjalanan Nanga Pinoh–Sintang, Jumat 2 Oktober 2026
Tepat pukul 07.00 WIB, Jumat pagi, 2 Oktober 2026, aku keluar dari pondok tempatku tinggal. Aku hanya menggunakan motor satu-satunya yang kumiliki. Tujuanku pagi itu adalah Kota Sintang.
Perjalanan baru saja dimulai ketika mataku melihat lampu indikator bahan bakar di motor mulai berkedip. Tandanya jelas, minyak hampir habis.
Aku mulai berpikir, SPBU mana yang bisa disinggahi untuk mengisi BBM sebelum melanjutkan perjalanan ke Sintang?
Aku melewati SPBU KM 4 Nanga Pinoh. Dari kejauhan terlihat antrean kendaraan sudah begitu panjang. Namun, SPBU masih tutup.
Aku tidak berhenti. Dalam pikiranku, mungkin masih ada keberuntungan di SPBU berikutnya.
Aku kemudian melanjutkan perjalanan menuju SPBU Sidomulyo.
Ternyata pemandangannya hampir sama.
SPBU masih tutup, sementara antrean kendaraan sudah mengular. Motor dan mobil terlihat menunggu sejak pagi. Aku pun kembali melanjutkan perjalanan.
Dalam kondisi bahan bakar yang semakin menipis, akhirnya aku memutuskan mencari BBM eceran.
Tak lama kemudian, aku menemukan salah satu penjual BBM eceran yang baru membuka dagangannya.
Menariknya, di sana tersedia dua pilihan, Pertalite dan Pertamax.
Aku bertanya kepada penjual.
“Pertalite berapa satu liter?”
“Rp20 ribu,” jawabnya.
Aku kemudian bertanya lagi.
“Kalau Pertamax?”
Jawabannya membuatku sedikit tersenyum.
“Sama, Rp20 ribu.”
Aku sempat tersenyum mendengar jawaban itu.
Pertalite Rp20 ribu. Pertamax juga Rp20 ribu.
Akhirnya aku memilih Pertamax.
Sambil melanjutkan perjalanan, aku teringat pemandangan sepanjang jalan dari Nanga Pinoh. Pagi itu cukup banyak penjual BBM eceran yang baru membuka dagangan mereka.
Dalam hati aku berpikir, mungkin keuntungan dari menjual BBM eceran cukup lumayan ketika kondisi seperti ini terjadi.
Aku pun melanjutkan perjalanan menuju Sintang.
Sesampainya di Kota Sintang, suasananya terasa berbeda.
SPBU sudah buka. Antrean memang tetap ada, tetapi tidak sepanjang antrean yang kulihat di beberapa SPBU Kota Nanga Pinoh.
Karena ingin segera melanjutkan perjalanan, aku memilih antrean Pertamax.
Tidak sampai lama. Kurang lebih lima menit menunggu, aku sudah mendapatkan BBM dan bisa kembali melanjutkan aktivitas.
Setelah bertemu dengan seorang teman di Sintang, aku kemudian bercerita tentang perjalanan dari Nanga Pinoh.
Aku bertanya kepadanya,
“Kok di sini antreannya tidak terlalu panjang?”
Temanku kemudian menjawab bahwa di Sintang sudah diterapkan sistem ganjil-genap untuk pengaturan pembelian BBM.
Aku terdiam sejenak.
Dalam perjalanan pagi itu, aku akhirnya mendapatkan sebuah cerita kecil.
Bukan hanya tentang BBM yang hampir habis. Bukan hanya tentang antrean panjang. Bahkan bukan hanya tentang harga eceran Rp20 ribu per liter.
Tetapi tentang bagaimana sebuah aturan bisa memengaruhi panjang atau pendeknya antrean di SPBU.
Aku kemudian berpikir, bagaimana kalau sistem ganjil-genap juga diterapkan di Melawi?
Mungkin penerapan sistem tersebut bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi panjangnya antrean di SPBU, terutama pada saat pasokan BBM sedang terbatas.
Setidaknya, masyarakat yang memiliki keperluan mendesak, termasuk warga yang hendak berangkat bekerja, mengantar anak sekolah, menjalankan usaha, atau melakukan aktivitas lainnya, memiliki kesempatan lebih baik untuk mendapatkan BBM tanpa harus menghabiskan waktu berjam-jam dalam antrean.
Perjalanan Nanga Pinoh–Sintang pagi itu akhirnya bukan sekadar perjalanan biasa.
Aku berangkat karena ingin menuju Sintang.
Namun, aku pulang membawa sebuah pertanyaan:
Jika di tempat lain pengaturan antrean bisa dilakukan dengan sistem tertentu, apakah Melawi juga membutuhkan cara yang sama atau cara lain yang sesuai dengan kondisi masyarakatnya?
Sebab bagi masyarakat, BBM bukan sekadar bahan bakar kendaraan.
BBM adalah bagian dari aktivitas sehari-hari.
Ketika BBM sulit didapat, perjalanan terhambat, pekerjaan ikut terganggu, dan waktu masyarakat pun ikut terbuang.
Dan pagi itu, aku merasakannya sendiri.

Kolom Komentar Pembaca