Aku dilahirkan dari keluarga sederhana. Abah, begitu aku memanggil bapakku, berprofesi sebagai pedagang ikan. Sementara Emak, panggilan sayangku untuk ibu, adalah seorang petani.
Dua profesi yang berbeda, tetapi keduanya mengajarkanku tentang arti kerja keras, kesederhanaan, dan bagaimana menjalani kehidupan dengan penuh rasa syukur.
Sejak kecil, aku sudah merasakan nikmatnya hidup di tengah dua dunia tersebut. Abah dengan ikan-ikannya, sedangkan Emak dengan tanah dan berbagai tanaman yang dirawatnya. Dari kedua orang tuaku itu, aku mengenal kehidupan yang dekat dengan alam.
Setiap hari, makanan di rumah kami tidak jauh dari ikan dan sayuran. Ikan segar menjadi lauk yang biasa tersaji di meja makan, sementara sayuran berasal dari hasil pertanian Emak sendiri.
Kalau dipikir-pikir sekarang, kehidupan masa kecilku sebenarnya menyimpan pelajaran tentang pola makan sehat. Kami terbiasa mengonsumsi bahan makanan yang segar, sederhana, dan berasal dari lingkungan sekitar.
Waktu itu, aku belum mengerti apa arti makanan bergizi, apalagi mengenal istilah gaya hidup sehat seperti yang sering dibicarakan orang sekarang. Bagiku, makan ikan dan sayur setiap hari adalah hal biasa.
Namanya juga anak-anak, yang ada di pikiranku saat itu adalah bermain dan menikmati hari.
Bermain dengan Ikan, Belajar dari Laut
Karena rumah kami sangat dekat dengan laut, aku lebih sering mengikuti aktivitas Abah. Aku senang bermain dengan ikan-ikan laut yang menjadi bagian dari pekerjaannya sehari-hari.
Ada kesenangan tersendiri melihat berbagai jenis ikan yang dibawa Abah. Bagiku, ikan bukan sekadar barang dagangan, melainkan bagian dari kehidupan yang sudah akrab sejak kecil.
Namun, bukan berarti aku jauh dari dunia pertanian.
Sesekali aku ikut Emak pergi ke sawah dan kebun. Di sanalah aku melihat bagaimana Emak bekerja, merawat tanaman, dan memanfaatkan tanah untuk menghasilkan bahan makanan bagi keluarga.
Abah pun ternyata tidak hanya pandai berdagang ikan. Ketika sedang libur berjualan, ia juga ikut bertani.
Dua orang tuaku itu seolah mengajarkan satu hal tanpa harus banyak berbicara: kehidupan harus dijalani dengan bekerja, memanfaatkan apa yang tersedia di alam, dan tidak menggantungkan seluruh kebutuhan pada orang lain.
Sekarang, ketika aku mengingat kembali masa-masa itu, rasanya ada bagian dari kehidupan sederhana tersebut yang ingin sekali kuulang.
Bukan karena aku ingin kembali menjadi anak kecil, melainkan karena aku mulai memahami nilai dari kebiasaan yang dahulu kuanggap biasa saja.
Pukul Empat Subuh, Kehidupan Sudah Dimulai
Ada satu pola kehidupan masa kecil yang masih melekat kuat dalam ingatanku.
Sekitar pukul 04.00 subuh, Abah dan Emak sudah bangun. Mereka mempersiapkan diri untuk melaksanakan salat Subuh.
Setelah salat, Emak mulai menyiapkan sarapan untuk keluarga. Dan satu hal yang hampir tidak pernah ketinggalan dari meja makan pagi kami adalah kopi.
Kopi seolah menjadi teman setia untuk memulai hari.
Ketika tanah di sekitar rumah mulai terang, sekitar pukul 05.15, kedua orang tuaku sudah bersiap menjalani aktivitas masing-masing.
Abah pergi berdagang ikan, sedangkan Emak bersiap menuju sawah atau kebun.
Pagi itu, aku ikut Emak ke kebun.
Sesampainya di sana, aku melihat berbagai macam tanaman yang tumbuh di tanah garapannya. Ada banyak pekerjaan yang bisa dilakukan, mulai dari merawat tanaman hingga membersihkan area kebun.
Sayangnya, kalau ditanya sekarang apa saja yang kukerjakan waktu itu, aku malah lupa.
Hehehe.
Maklum, namanya juga anak-anak. Kadang ikut bekerja, kadang lebih sibuk bermain. Yang penting ikut Emak ke kebun dan menikmati suasana pagi.
Namun, ada satu hal yang masih kuingat dengan jelas.
Sekitar pukul 09.30, Emak sudah berhenti bekerja dan bersiap pulang. Matahari mulai meninggi, udara semakin panas, dan pekerjaan di kebun pun dicukupkan untuk pagi itu.
Dari kebiasaan tersebut, aku sekarang melihat sesuatu yang menarik.
Emak memulai aktivitas sejak pagi ketika udara masih relatif sejuk. Ia bekerja dengan memanfaatkan waktu, lalu pulang sebelum terik matahari semakin menyengat.
Tentu saja, pekerjaan petani tidak selalu ringan. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi, termasuk cuaca dan kondisi tanah. Namun, rutinitas Emak mengajarkanku bahwa bekerja juga perlu memahami waktu dan kemampuan tubuh.
Makan dari Hasil Tanah Sendiri
Sesampainya di rumah, Emak tidak langsung beristirahat.
Ia kembali menjalankan pekerjaan berikutnya, yaitu memasak untuk keluarga.
Sekitar pukul 10.30, makanan sudah siap dan kami mulai makan siang.
Menu yang tersaji biasanya sederhana. Ada ikan, sayur, dan makanan rumahan yang dibuat dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar kami.
Tidak ada istilah makanan kekinian. Tidak ada pula kebiasaan memesan makanan melalui telepon genggam, seperti yang sekarang semakin mudah dilakukan.
Yang ada hanyalah masakan Emak.
Dan anehnya, makanan sederhana itu justru meninggalkan kenangan yang begitu kuat sampai sekarang.
Aku mulai menyadari bahwa hidup sehat tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang mahal. Kebiasaan mengonsumsi ikan, sayuran, dan makanan rumahan dapat menjadi bagian dari pola makan yang baik.
Apalagi jika bahan makanan tersebut berasal dari hasil kebun sendiri atau dibeli langsung dari petani dan nelayan setempat.
Ada hubungan yang dekat antara pekerjaan orang tua, bahan makanan yang tersedia, dan kehidupan keluarga kami sehari-hari.
Abah mencari ikan, Emak menanam sayuran, lalu hasilnya menjadi bagian dari makanan yang kami nikmati bersama.
Sebuah lingkaran kehidupan sederhana yang sekarang terasa begitu berharga.
Tidur Siang, Kebiasaan yang Sekarang Mulai Dilupakan
Setelah makan siang, biasanya kami beristirahat.
Ketika waktu salat Zuhur tiba, Emak menunaikan salat terlebih dahulu. Setelah itu, ia kembali beristirahat dan tidur siang.
Aku pun biasanya ikut tidur.
Bukan karena selalu ingin tidur, melainkan karena Emak memang menyuruhku beristirahat.
Hehehe.
Pada masa itu, belum ada telepon pintar yang terus mengajak orang menatap layar. Belum ada kebiasaan menggulir media sosial sampai lupa waktu.
Kalau sudah waktunya beristirahat, ya beristirahat.
Kalau sudah waktunya bekerja, ya bekerja.
Sederhana sekali.
Sekarang, ketika melihat kehidupan masyarakat modern, aku kadang berpikir bahwa kita semakin mudah mendapatkan hiburan, tetapi semakin sulit melepaskan diri dari kesibukan.
Bahkan ketika tubuh sudah lelah, tangan masih sibuk memegang telepon genggam. Mata ingin beristirahat, tetapi pikiran terus mencari sesuatu untuk dilihat.
Aku sendiri tidak bisa mengatakan bahwa semua kebiasaan zaman dahulu pasti lebih baik daripada kehidupan sekarang. Namun, dari rutinitas Emak, aku belajar bahwa tubuh membutuhkan waktu untuk bekerja dan waktu untuk memulihkan tenaga.
Istirahat bukanlah tanda kemalasan. Dalam batas yang wajar, istirahat merupakan bagian penting dari kehidupan yang seimbang.
Sore Hari, Kembali ke Kebun
Menjelang sore, sebelum waktu Asar, Emak biasanya sudah bangun dari tidurnya.
Setelah bersiap, ia menunggu waktu salat Asar dan menunaikannya.
Selesai salat, Emak kembali turun ke kebun untuk melanjutkan pekerjaan.
Kadang aku ikut. Kadang juga tidak.
Kalau sedang ingin bermain bersama teman-teman, tentu saja aku memilih bermain.
Namanya anak-anak, bermain bersama kawan-kawan terasa jauh lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu di kebun.
Hehehe.
Sekitar pukul 16.30, Emak biasanya sudah pulang dari kebun. Sesampainya di rumah, ia kembali menyiapkan makanan untuk makan malam keluarga.
Sementara itu, Abah biasanya pulang berdagang sekitar pukul 16.00 atau 17.00. Waktu kepulangannya bergantung pada seberapa cepat ikan dagangannya habis terjual.
Aku membayangkan betapa melelahkannya aktivitas mereka.
Sejak pagi, Abah harus berdagang dan berhadapan dengan berbagai urusan jual beli. Emak pun bekerja di kebun, memasak, mengurus rumah, dan memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Namun, semua itu menjadi bagian dari rutinitas yang mereka jalani setiap hari.
Mereka mungkin tidak pernah menyebutnya sebagai gaya hidup aktif. Mereka juga tidak menghitung berapa banyak kalori yang terbakar ketika bekerja.
Mereka hanya menjalani kehidupan.
Berjalan, mengangkat barang, merawat tanaman, memasak, dan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga.
Dari sudut pandang sekarang, aktivitas fisik semacam itu dapat membantu menjaga kebugaran tubuh. Meski demikian, kesehatan juga tetap membutuhkan asupan makanan yang cukup, istirahat yang baik, dan perhatian terhadap kondisi tubuh.
Malam yang Sederhana, tetapi Penuh Kehangatan
Ada satu bagian masa kecil yang selalu membuatku tersenyum ketika mengingatnya.
Selesai salat Magrib, kami makan malam bersama keluarga.
Setelah itu, sambil menunggu waktu salat Isya, biasanya ada saja makanan ringan atau camilan yang dibuat Emak.
Entah apa yang dimasaknya saat itu, yang jelas selalu ada sesuatu yang bisa dinikmati bersama.
Momen-momen seperti itulah yang membuat rumah terasa hangat.
Bukan karena rumah kami dipenuhi barang mahal, tetapi karena ada kebersamaan, makanan sederhana, dan orang tua yang selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarga.
Setelah salat Isya, kami bersiap untuk tidur.
Hari pun selesai.
Besok pagi, semuanya kembali berjalan seperti biasa.
Abah bangun untuk berdagang ikan. Emak bangun untuk beribadah, menyiapkan makanan, lalu pergi ke kebun. Kami menjalani hari dengan pola yang hampir sama.
Rutinitas itu terus berulang, sampai akhirnya aku tumbuh dewasa dan mulai menjalani kehidupanku sendiri.
Barulah sekarang aku menyadari bahwa ada banyak hal berharga yang tertinggal dalam kenangan tersebut.
Apakah Pola Hidup Petani Lebih Sehat?
Ketika mengenang kehidupan Abah dan Emak, aku sering bertanya kepada diriku sendiri: mengapa pola kehidupan sederhana itu terasa begitu menarik untuk dijalani kembali?
Mungkin karena ada keseimbangan di dalamnya.
Mereka terbiasa bangun pagi, bekerja, mengonsumsi makanan rumahan, menjalankan ibadah, beristirahat, dan meluangkan waktu bersama keluarga.
Aktivitas fisik menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari. Makanan tersedia dari hasil laut dan tanah. Waktu istirahat pun memiliki tempat tersendiri dalam rutinitas mereka.
Namun, aku juga memahami bahwa menjadi petani tidak otomatis membuat seseorang lebih sehat. Pekerjaan di bawah terik matahari, paparan pestisida, kurangnya air minum, dan beban kerja yang berat dapat menimbulkan risiko kesehatan.
Karena itu, pelajaran yang ingin kuambil bukanlah meniru seluruh kebiasaan masa lalu tanpa pertimbangan.
Aku ingin mengambil nilai baiknya: aktif bergerak, makan dengan baik, beristirahat cukup, menjaga kedekatan dengan alam, dan tidak membiarkan pekerjaan menguasai seluruh kehidupan.
Kita boleh hidup di zaman modern. Kita boleh menggunakan teknologi untuk bekerja dan mencari penghasilan. Namun, jangan sampai kemudahan yang kita miliki justru membuat kita melupakan kebutuhan dasar tubuh sendiri.
Teknologi seharusnya membantu kehidupan menjadi lebih baik, bukan membuat kita lupa makan tepat waktu, kurang bergerak, atau mengorbankan waktu tidur.
Aku Ingin Mengulang Pola Kehidupan Itu
Hari ini, ketika mengingat kembali masa kecil bersama Abah dan Emak, aku merasa ada sesuatu yang ingin kuhidupkan kembali.
Aku ingin kembali merasakan kehidupan yang dekat dengan tanah, tanaman, dan makanan yang tumbuh dari alam.
Aku ingin membiasakan diri bangun lebih pagi, bergerak lebih banyak, mengonsumsi makanan rumahan, dan memiliki waktu istirahat yang cukup.
Bukan berarti aku ingin meninggalkan seluruh kesibukan modern. Aku hanya ingin menemukan keseimbangan yang mungkin dahulu telah dimiliki orang tuaku tanpa mereka sadari.
Dulu, aku menganggap rutinitas Abah dan Emak sebagai sesuatu yang biasa saja.
Sekarang, aku melihatnya sebagai warisan nilai kehidupan.
Abah mengajarkanku tentang kerja keras, ketekunan, dan bagaimana mencari nafkah melalui hasil laut. Emak mengajarkanku tentang kesabaran, kedekatan dengan alam, dan pentingnya merawat sesuatu agar bisa menghasilkan manfaat.
Keduanya memberiku pelajaran yang tidak ternilai.
Bahwa hidup sehat bukan semata-mata tentang berapa banyak uang yang kita keluarkan untuk membeli makanan sehat atau mengikuti program kebugaran.
Hidup sehat juga berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Bangun pagi. Bergerak. Makan dengan baik. Beristirahat. Menjaga hubungan dengan keluarga. Dan belajar bersyukur atas apa yang kita miliki.
Aku tidak tahu apakah pola kehidupan masa kecilku bisa kembali sama persis seperti dahulu. Zaman telah berubah, tanggung jawab semakin banyak, dan kehidupan memiliki tantangannya sendiri.
Namun, ada satu hal yang ingin kujaga.
Aku tidak ingin tumbuh dewasa hanya dengan membawa kenangan tentang kehidupan sehat bersama Abah dan Emak. Aku ingin menjadikan kenangan itu sebagai kebiasaan nyata dalam kehidupanku sekarang.
Sebab, terkadang, pelajaran terbaik tentang masa depan justru tersimpan dalam kehidupan sederhana yang pernah kita jalani pada masa lalu.
Dan bagiku, salah satu pelajaran hidup paling berharga itu berasal dari seorang pedagang ikan bernama Abah dan seorang petani yang kupanggil Emak.
Dari merekalah aku belajar bahwa kehidupan yang sehat tidak selalu harus rumit.
Kadang, kita hanya perlu kembali memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh, keluarga, dan kehidupan kita sendiri.

Kolom Komentar Pembaca