katalistiwa.online, melawi - Di usia yang telah menginjak 60 tahun, Amran, yang akrab disapa Pak Pati, masih memiliki kepedulian besar terhadap kelestarian lingkungan dan hutan di desanya. Warga Desa Kebebu, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, itu berjuang menanam kopi Liberika sebagai salah satu upaya menjaga lingkungan sekaligus mendorong pemanfaatan lahan yang lebih produktif.
Namun, perjuangan tersebut kini menyisakan kesedihan. Ribuan bibit kopi Liberika yang ditanam dengan harapan dapat tumbuh subur justru harus menghadapi kenyataan pahit akibat kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Saat ditemui di Pondok Inspirasi pada Rabu (7/10/2026), Pak Pati menceritakan kesedihannya melihat bibit kopi yang telah ditanam tidak semuanya mampu bertahan hidup.
Dari sekitar 2.000 bibit kopi Liberika yang ditanamnya, kurang lebih 1.000 bibit di antaranya mati akibat kekurangan air. Kondisi kemarau membuat persediaan air semakin sulit didapatkan, sehingga ia tidak lagi mampu menyiram seluruh tanaman yang membutuhkan air untuk bertahan hidup.
Bagi sebagian orang, bibit tanaman yang mati mungkin hanya terlihat sebagai kerugian dalam kegiatan bercocok tanam. Namun, bagi Pak Pati, bibit-bibit tersebut merupakan bagian dari perjuangan panjang untuk menjaga lingkungan dan hutan di desanya.
Setiap bibit yang ditanam membawa harapan agar lingkungan tetap terjaga dan masyarakat memiliki kesempatan mengembangkan tanaman yang bermanfaat bagi kehidupan mereka di masa mendatang.
Sayangnya, kondisi alam tidak selalu berjalan sesuai harapan. Kemarau yang berkepanjangan membuat upaya merawat ribuan bibit kopi tersebut menjadi semakin berat.
Kesedihan Pak Pati tidak berhenti pada ribuan bibit kopi miliknya yang mati kekeringan. Ia juga menceritakan nasib para petani lain yang telah berjuang menanam kopi Liberika di kebun mereka.
Menurut penuturannya, ribuan batang pohon kopi yang ditanam oleh rekan-rekan sesama petani turut habis terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan.
Kondisi tersebut menambah berat perjuangan para petani yang berupaya mengembangkan kopi Liberika sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Tanaman yang sebelumnya dirawat dengan harapan dapat tumbuh dan memberikan manfaat pada masa mendatang harus menghadapi ancaman kebakaran. Sementara itu, kemarau membuat tanaman semakin rentan karena terbatasnya ketersediaan air.
Dua persoalan tersebut menjadi pukulan bagi para petani yang telah mengeluarkan tenaga, waktu, dan biaya untuk menanam serta merawat kopi.
Bagi Pak Pati, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukanlah pekerjaan mudah. Diperlukan kepedulian bersama agar hutan tetap terlindungi dan tanaman yang telah ditanam tidak kembali menjadi korban kebakaran maupun kekeringan.
Di tengah kesedihan melihat ribuan bibit kopi mati dan tanaman milik petani lain terbakar, Pak Pati tetap menyimpan harapan.
Ia berharap generasi muda di Kabupaten Melawi tidak kehilangan kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, menjaga hutan dan alam merupakan tanggung jawab bersama yang harus terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Usia yang semakin bertambah tidak membuat kepeduliannya terhadap lingkungan menghilang. Justru melalui pengalaman yang dialaminya, Pak Pati ingin mengingatkan bahwa menjaga alam membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan kerja bersama.
Perjuangannya menanam kopi Liberika menjadi salah satu bentuk kepedulian nyata terhadap lingkungan. Namun, upaya tersebut tidak akan berjalan maksimal apabila hanya dilakukan oleh segelintir orang tanpa dukungan masyarakat luas.
Kesadaran untuk tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan, menjaga kawasan hutan, serta merawat tanaman yang telah ditanam menjadi bagian penting dari upaya melindungi lingkungan.
Bagi generasi muda Melawi, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kelestarian alam bukan sekadar tanggung jawab orang-orang yang tinggal di sekitar hutan. Masa depan lingkungan juga ditentukan oleh kepedulian dan tindakan yang dilakukan hari ini. (snh)

Kolom Komentar Pembaca